A. Materi I : “oleh Arip Wicaksono, S.Sos. M.M. selaku Plt.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Gresik.
o Sistem
budidaya polikultur
adalah metode budidaya dua atau lebih komoditas dalam satu kolam, seperti udang
dan bandeng, yang saling mendukung dalam memanfaatkan pakan alami serta menjaga
kualitas air. Cara ini efektif untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi
lahan. Tahapannya meliputi persiapan tambak, penebaran benih, pemberian pakan,
pemantauan kualitas air, hingga panen. Sebelum mulai, tambak dikeringkan 10–15
hari, diberi kapur dolomit, dipupuk Urea dan TSP, lalu diisi air bertahap agar
ekosistem mikro siap mendukung pertumbuhan ikan dan udang.
o Penggunaan
kultur bakteri
menjadi kunci dalam menjaga kestabilan kualitas air dan kesehatan ekosistem
tambak. Kultur ini diberikan sejak awal hingga masa panen untuk membantu
penguraian bahan organik dan menekan bakteri patogen. Campurannya terdiri dari
gula tetes, probiotik, dan air bersih yang berfungsi menumbuhkan mikroorganisme
baik. Kultur bakteri juga mempercepat pembentukan pakan alami seperti plankton
dan menciptakan kondisi kolam yang seimbang tanpa ketergantungan bahan kimia.
o Selain kultur bakteri, proses fermentasi juga berperan
penting dalam menunjang kualitas budidaya. Fermentasi dilakukan saat ikan
berusia 1–2 bulan atau lebih untuk meningkatkan ketersediaan nutrisi alami,
memperbaiki pencernaan ikan, serta menstabilkan ekosistem air. Bahan yang
digunakan antara lain gula tetes sebagai pemicu fermentasi, ragi tape sebagai
sumber mikroorganisme fermentatif, dedak halus sebagai bahan utama sumber
nutrisi, pupuk urea sebagai tambahan nitrogen, dan air bersih untuk membantu
proses pelarutan. Hasil fermentasi ini dapat dicampurkan ke pakan atau langsung
diberikan ke kolam sebagai sumber mikroorganisme dan nutrisi tambahan. Untuk
menjaga kesehatan ikan, juga digunakan ramuan herbal dari bawang putih, kunyit,
dan temulawak yang berfungsi sebagai antibakteri alami, ditambah vitamin dan
asam amino untuk meningkatkan daya tahan tubuh ikan. Kombinasi antara kultur
bakteri, fermentasi, dan ramuan herbal ini menjadikan sistem polikultur lebih
efisien, sehat, serta ramah lingkungan.
B. Materi II : “Pembinaan Teknis Budidaya
Ramah Lingkungan” oleh Bapak H. Sujono, S.H.
selaku Anggota Komisi II
DPRD Kabupaten Gresik.
·
Budidaya ramah lingkungan atau akuakultur berkelanjutan
merupakan praktik budidaya ikan, kerang, dan rumput laut yang bertanggung jawab
terhadap aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Prinsip utamanya adalah
memastikan produksi ikan dilakukan secara berkelanjutan tanpa merusak
ekosistem. Landasan hukumnya antara lain UU No. 31 Tahun 2004 jo. UU No. 45
Tahun 2009 tentang Perikanan, serta peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan
seperti Permen KP No. 75 Tahun 2016 tentang Pedoman Umum Budidaya Ikan yang
Baik (GAP) dan Permen KP No. 6 Tahun 2020 tentang kesejahteraan ikan budidaya.
Regulasi tersebut menekankan pentingnya praktik budidaya yang memperhatikan
keseimbangan lingkungan dan kesejahteraan ikan.
·
Secara
teknis, budidaya ikan ramah lingkungan mengutamakan efisiensi sumber daya dan
pengelolaan limbah melalui penerapan teknologi seperti sistem resirkulasi air
(RAS), bioflok, akuaponik, dan polikultur. Teknologi ini berfungsi untuk
mendaur ulang air, mengolah limbah menjadi pakan alami, serta menciptakan
ekosistem yang sehat dan produktif. Selain itu, penggunaan pakan alami atau
organik, probiotik, dan sistem biofilter turut membantu menjaga kualitas air
dan kesehatan ikan. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi
juga meningkatkan efisiensi produksi serta mendukung keberlanjutan usaha
perikanan di masa depan.
C. Materi III : “Pembinaan Teknis Budidaya
Ramah Lingkungan” oleh Bapak Salton Sulaiman, S.H., M.H. selaku Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Gresik.
·
Budidaya ramah lingkungan
merupakan pendekatan penting dalam sektor pertanian dan perikanan yang
menyeimbangkan antara peningkatan produksi dan kelestarian ekosistem. Melalui
pembinaan teknis, para petani dan pembudidaya didorong untuk menerapkan metode
yang adaptif, efisien, dan sesuai regulasi seperti UU Lingkungan Hidup dan
pedoman Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). Tujuan utamanya adalah
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pelaku usaha agar mampu menerapkan
prinsip berkelanjutan, mengelola limbah dengan benar, serta menggunakan
teknologi dan bahan yang ramah lingkungan.
·
Penerapan prinsip budidaya
ramah lingkungan memberikan manfaat ekologis, ekonomis, sosial, dan kesehatan
publik, seperti menjaga keseimbangan alam, menekan biaya jangka panjang, serta
menghasilkan produk yang aman konsumsi. Meski demikian, tantangan seperti
pencemaran, penurunan kualitas perairan, dan konflik sosial masih perlu diatasi
melalui penerapan teknologi bersih, pelatihan berkelanjutan, serta penguatan
regulasi dan pengawasan. Dengan dukungan pemerintah dan kolaborasi lintas
sektor, praktik budidaya ramah lingkungan dapat menjadi fondasi utama bagi
keberlanjutan produksi dan kesejahteraan masyarakat.
Last updated 2026-06-11