A. Materi I : “Budidaya Polikultur Udang Bandeng
Sistem Tradisional Plus” oleh Arip
Wicaksono, S.Sos. M.M. selaku Plt. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Gresik.
·
Budidaya polikultur udang dan
bandeng merupakan metode yang menggabungkan dua
komoditas dalam satu lahan tambak untuk memanfaatkan sumber daya secara
optimal. Sistem ini dinilai efektif karena udang dan bandeng saling melengkapi,
terutama dalam menjaga kualitas air serta meningkatkan produktivitas tambak.
Proses budidaya dilakukan dengan memperhatikan prinsip Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB),
mulai dari persiapan lahan, pengapuran, pemupukan, hingga pengisian air yang
bertahap. Kegiatan tersebut bertujuan menciptakan kondisi lingkungan yang ideal
bagi pertumbuhan pakan alami dan kelangsungan hidup kedua komoditas tersebut.
·
Selain itu, keberhasilan
budidaya juga dipengaruhi oleh pemilihan
benih berkualitas, manajemen pakan, pengendalian kualitas air, serta kesehatan
ikan dan udang. Pemberian pakan disesuaikan dengan kebutuhan
dan kondisi cuaca agar efisien dan tidak mencemari tambak. Monitoring rutin
terhadap kualitas air dan kondisi komoditas menjadi langkah penting untuk
mencegah penyakit. Setelah masa pemeliharaan sekitar empat bulan, panen
dilakukan sesuai ukuran pasar dengan tujuan menjaga keberlanjutan siklus
produksi. Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan hasil panen sekaligus
efisiensi penggunaan lahan tambak di Kabupaten Gresik.
B. Materi II : “Pengembangan Tambak
Tradisional Plus” oleh Bapak Danang Swantara selaku Anggota
Komisi III DPRD Kabupaten Gresik.
·
Materi Pengembangan Tambak Tradisional Plus
membahas inovasi dalam pengelolaan tambak di Kabupaten Gresik yang mayoritas
masih dikelola secara tradisional dengan produktivitas rendah. Konsep “Tambak
Tradisional Plus” hadir sebagai solusi dengan mempertahankan karakter alami
tambak tradisional namun diperkaya teknologi sederhana, manajemen modern, serta
prinsip keberlanjutan lingkungan. Pendekatan ini meliputi penerapan alat
seperti aerator atau pompa tenaga surya, pencatatan keuangan dan panen yang
rapi, diversifikasi komoditas seperti udang–bandeng–rumput laut, hingga
pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk.
Tujuan utamanya yaitu meningkatkan kesejahteraan petambak, efisiensi lahan, serta daya saing sektor perikanan daerah. Meski memiliki banyak manfaat seperti produktivitas 1,5–2 kali lipat dan biaya operasional yang lebih rendah, pengembangannya masih menghadapi kendala modal, pengetahuan teknologi, serta infrastruktur yang terbatas. Karena itu, strategi yang ditekankan meliputi pelatihan kelompok, kolaborasi dengan perguruan tinggi, kemitraan dengan swasta, dan dukungan kebijakan dari DPRD melalui fungsi legislasi, anggaran, serta pengawasan agar terwujud tambak rakyat yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan.
Last updated 2026-06-11